M E M A K L U M I

Di antara semua kemampuan yang dimiliki manusia, buat saya yang terhebat adalah kemampuan untuk memaklumi. Bahkan ia terlampau hebat dibanding memaafkan.
Memaafkan melibatkan seseorang yang bersalah lalu menyadari dan menyesali perbuatannya. Ia kembali dan berkata, “Maafkan aku.” Dan kita memaafkan.
Memaklumi melibatkan dua orang yang entah salah satunya terlalu angkuh atau yang lainnya terlampau bodoh. Tidak ada penyesalan. Hanya ada seseorang yang menganggap dirinya tak berbuat salah apa-apa. Ia berbuat semau hatinya karena menyangka seorang yang lain tidak akan pernah pergi.
Atau seseorang yang entah mengapa selalu saja memaklumi dan tidak pernah beranjak. Meskipun ia tahu bahwa ia harus beranjak pergi. Meskipun kata orang lepaskanlah untuk memberi ruang bagi seseorang yang lebih baik.
Saya teringat lagi kata-kata seorang dosen tentang hubungan antara suami istri. Beliau dosen teknik kimia namun mengerti banyak mengenai hubungan sosial. Rasanya beliau lebih pantas menggeluti bidang humaniora dibanding berbicara mengenai reaktor, pabrik, dan tetek bengek keteknikkimiaan.
Begini ceritanya.
“Tapi bagaimana kalau sudah sampai di ambang batas kesabaran?” tanya saya waktu itu karena menurut saya pastilah seorang manusia punya batas kesabaran.
“Tidak ada. Sesungguhnya jika dua orang saling mencintai, kesabaran itu tiada batasnya. Jujur saya lebih mencintai istri saya sekarang dibanding ketika masih pacaran dulu. Tiap harinya kami saling belajar untuk memaafkan, untuk menerima, untuk lebih mengerti.”
Dan tinggallah saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya bukannya tidak setuju, tapi tidak juga mengiyakan. Kata-kata beliau mengandung benar sekaligus salah, buat saya yang masih berusia sepertiga usia beliau. Mungkin perlu waktu untuk bisa mengerti. Saya diam. Saya mendebat sesuatu yang menurut saya janggal tapi tidak mendebat hal-hal yang belum bisa saya pahami.
Dalam perjalanan pulang sore itu, kaki-kaki saya mengayun lambat. Saya berandai-andai. Bagaimana rasanya tambah jatuh cinta setiap harinya dengan orang yang sama? Bagaimana punya seseorang untuk berdebat dan ia tidak lelah sedikit pun menghadapi saya yang ngotot? Meski yang diperdebatkan hal remeh-temeh. Bagaimana rasanya mengobrol santai di malam hari seusai hari yang penat? Mungkin sambil ditemani dua cangkir coklat panas. Sore itu pikiran saya mengembara ke bagaimana-bagaimana yang lain.
Mungkin seiring waktu berjalan, saya bisa jadi semakin tahu mana waktu untuk merengkuh, mana saatnya untuk membebaskan.
Mungkin suatu saat terbukti benar bahwa kesabaran saya tiada batas. Atau sebaliknya. Saya mampu melepaskan untuk menulis lagi lembaran baru.