Rumah Lain untuk Badakku

Memperingati Hari Badak Sedunia yang jatuh tanggal 22 September kemarin, saya mengikuti lomba menulis yang hadiahnya field trip ke Taman Nasional Ujung Kulon, sertifikat, dan uang tunai.
Hadiahnya memang menggiurkan karena sudah lama saya ingin melihat badak secara langsung (kalau beruntung karena badak kan penyendiri dan nggak suka hidup dekat-dekat manusia).

Artikel yang saya tulis sudah dipublikasikan di laman pembaca Viva.co.id: http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/677865-rumah-lain-untuk-sang-badak (bantu share atau sekadar like ya :p)

Dalam proses menulisnya sendiri lebih banyak waktu dihabiskan untuk research karena saya tidak mau menulis artikel abal-abal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Seru sih, saya jadi lebih banyak tahu fakta tentang badak. Seru dan miris. Miris banget karena populasinya yang tinggal sedikit sekali di alam. Ini artikelnya.

Sebelum kita ngomongin rumah, yuk kenalan dulu sama subjek yang ingin kita carikan rumah.
Siapa itu Sang Badak?
Mengapa Sang Badak sangat membutuhkan rumah baru?

Di Indonesia, ada Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Badak Jawa bermukim di Taman Nasional Ujung Kulon sedangkan Badak Sumatera dapat dijumpai di beberapa kawasan konservasi di Sumatera dan baru-baru ini dijumpai di Kalimantan. Perbedaan mencolok dari keduanya adalah Badak Jawa bercula satu sedangkan Badak Sumatera bercula dua. Badak Sumatera cocok untuk tinggal di hutan dengan vegetasi lebat. Spesies ini gemar menjelajah dan memakan buah-buahan, ranting, daun, dan kulit kayu. Sayangnya, populasinya terancam punah karena kebakaran hutan, pembukaan lahan, dan perburuan. Akses ke taman nasional yang cukup luas membuat badak banyak diburu untuk diambil cula dan bagian-bagian tubuhnya yang mitosnya dapat menjadi obat tradisional. Cukup miris ketika seekor binatang langka harus mati demi diambil culanya untuk obat yang belum terbukti khasiatnya secara medis. Oleh sebab itulah Badak Sumatera dikategorikan critically endangered oleh International Union for Conservation of Nature.

Badak Sumatera
Sumber: https://www.savetherhino.org/asia_programmes/rpu_programme_indonesia

Tak jauh beda nasibnya dengan Badak Sumatera, Badak Jawa yang memiliki cula kecil dengan panjang sekitar 25 cm kini populasinya tinggal 50 ekor. Spesies ini pun mendapat label merah, critically endangered dari IUCN. Ancaman lain selain perburuan adalah bencana alam karena hutan habitatnya, Taman Nasional Ujung Kulon berdekatan dengan Gunung Krakatau.
Badak Jawa
Sumber: http://www.wwf.or.id/?42062/Peringatan-Hari-Badak-Sedunia-WWF-Badak-Indonesia-Kritis-Perlu-Segera-Habitat-Baru

Konservasi ex-situ bisa menjadi salah satu solusinya. Selain mencari tempat yang lebih aman, Taman Nasional Ujung Kulon memiliki daya dukung hanya untuk 50 individu badak saja.[1] Dengan demikian, tentunya badak membutuhkan “rumah” baru. Hutan Baduy bisa menjadi salah satu pilihan. Banyak upaya kelestarian hutan dilakukan di sana, salah satunya penanaman 2000 pohon yang menjadi acara tahunan Polda Banten.[2] Masyarakat suku Baduy pun sering mendapat apresiasi karena usahanya dalam memelihara hutan dan lahan dengan baik. Hutan Baduy dapat difungsikan menjadi hutan konservasi bagi populasi Badak Jawa. Selain itu, Taman Nasional Halimun–Salak dan Cagar Alam Sancang dan Cikepuh dapat menjadi alternatif pilihan.

Rumah. Sesungguhnya rumah bukan hanya sebuah tempat. Rumah adalah dimana kita merasa aman, nyaman, dan bahagia. Menurut saya, dimana pun “rumah” kedua bagi badak itu berada, “rumah” tersebut harus memenuhi beberapa kriteria:

Penyedia sumber makanan untuk badak, misalnya bunga leuksa, bungburutu, canar, daun, ranting, dan kulit kayu.[3]

Kubangan lumpur. Badak Jawa kerap kali berkubang di lumpur demi menjaga suhu tubuh dan mencegah penyakit dan parasit. Badak Jawa lebih suka memakai kubangan binatang lainnya atau kubangan yang muncul secara alami. Mereka menggunakan cula untuk memperbesar kubangan. Cula tidak digunakan untuk bertarung karena badak dewasa umumnya tak punya musuh. Menusia adalah satu-satunya musuh badak. Tapi apalah guna cula, ketika manusia mengangkat senapan.

Fasilitas untuk penelitian. Butuh banyak kamera dan video jebak yang dipasang untuk dapat mengumpulkan informasi selain dari jejak kaki dan analisa kotoran. Ini dilakukan demi meningkatkan kualitas hidup badak pengembangbiakkan populasinya.

Keamanan. Rumah yang baik selalu memberikan rasa aman. Untuk badak, rasa aman berarti bebas dari ancaman perburuan dan kehilangan habitat. Sebuah artikel dari WWF menyebutkan bahwa tim kamera trap yang biasa menyusuri rute bertemu dengan induk yang sedang mengajari anaknya memilih makanan.[4] Badak juga adalah mamalia, dimana anak sangat bergantung kepada ibunya sampai batas usia tertentu. Bayangkan bagaimana kalau si induk terbunuh oleh pemburu yang ingin memperdagangkan cula? Di sinilah peran dari polisi hutan dan Rhino Protection Unit dibutuhkan. Polisi hutan dapat berasal dari masyarakat sekitar. Selain memberikan lapangan pekerjaan, masyarakat lokal lebih mengenal seluk-beluk lokasi sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan efektif.
Rumah yang nyaman membutuhkan koordinasi dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Yayasan Badak Indonesia, dan pihak-pihak lain seperti WWF yang menaruh perhatian akan stabilitas dan peningkatan populasi badak di muka bumi. Selain itu, undang-undang perlindungan satwa langka harus ditegakkan dan praktiknya diawasi.

Dan pada akhirnya, alasan mengapa penting bagi kita untuk menjaga kelestarian badak–selain keanekaragaman fauna–diungkapkan oleh Prof. Hadi Alikodra kepada kontributor dari the Living Planet Magazine dalam peluncuran buku Teknik Konservasi Badak Di Indonesia:
“…karena badak itu spesies yang khas, semacam model satwa purba. Kalau sampai badak punah, maka kita tidak punya contoh sifat-sifatnya. Kisah tentang kesabarannya, perilaku-perilaku, gerakannya, semua yang ada di badak. Manusia dapat dan harus belajar dari badak. Bagaimana satwa ini memelihara alam, bagaimana dia mencintai pasangannya, bagaimana dia menjaga hubungan dengan sesama badak agar lestari, dan cara-cara mereka memelihara anak mereka. Sangat luar biasa.”

Badak ternyata adalah salah satu role model kita. Tanpanya, kepada siapa lagi kita dapat belajar?

Ini adalah tindakan kecil saya, membuat tulisan tentang rumah kedua untuk badak demi kelangsungan spesiesnya. Mari dukung dengan menyebarkan atau membuat tulisan serupa, berdonasi untuk WWF atau organisasi serupa (cek kredibilitasnya terlebih dahulu). Mari kita bergandeng tangan untuk Sang Badak!