Gramedia: Rumah yang Mengusik

Gramedia.

Sudah ribuah kali semenjak aku kecil kuinjakkan kaki di tempat dimana aku begitu takjub akan deretan buku yang terpajang rapi. Excitement kontan menjalariku begitu kujentikkan tangan di atas kertas art carton sampul buku dan mulai membolak-balik halaman demi halaman buku yang sudah terbuka dari pembungkusnya. Sampai detik ini pun, orang tuaku masih 'sebal' ketika aku mampir ke Gramedia di saat mereka sedang terburu-buru karena waktu yang kuhabiskan untuk mengitari rak demi rak paling tidak satu jam-an.

Tempat ini ada di berbagai momen penting dalam kehidupanku. Pernah nggak, sih ngomong di telepon atau sms begini,

"Kita ketemuannya di Gramedia aja, ya."

Yup, waktu jaman-jaman ABG labil yang hampir Sabtu nge-mall sama temen (temen kok serius. Waktu SMP cupu ngga punya cinta monyet ;p), kami sering banget janjiannya di Gramedia.
Selain itu ketika sahabat karib ultah dan ingin membelikan teenlit sebagai kado, membeli perlengkapan sekolah di tahun ajaran baru, membeli seruling sebagai alat musik pertama yang kupunya, kemudian pianika, dan terakhir biola, membeli buku latihan persiapan UAN dan SNMPTN, aku selalu larinya ke Gramedia.

Dan yang terpenting di semua momen yang kupunya bersama Gramedia adalah ketika launching buku pertamaku di Gramedia Matraman dan melihat buku kumpulan cerpenku ikut terpajang bersama buku-buku lain di Gramedia di hampir semua mall di Tangerang. Aku sampai pernah norak loh pergi ke semua Gramedia demi melihat Pertama Kalinya! dipajang bersama buku-buku lain.

Sudah tentu itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Terima kasih untuk Sitta Karina dan sayembara menulis cerpennya! Pada usiaku yang ke-16, akhirnya kusaksikan buku bersampul warna turquoise itu 'nyempil' di antara buku-buku karya penulis novel terkenal yang namanya sudah tak asing didengar. Pada acara launching buku Pertama Kalinya!, Sitta Karina berpesan untuk terus menulis karena suatu saat ia akan pensiun dan harus ada penulis-penulis baru dengan ide-ide fresh yang menggantikannya.

Jadi bagaimana aku melihat Gramedia? Tak sulit untuk menjawabnya dan tak perlu pula aku berpikir keras. Gramedia adalah tempat aku mengeluarkan uang tanpa pernah kusesali atau jika sedang 'bokek', tempat hiburanku untuk cuci mata, dan terakhir pengusikku.

Iya, pengusik. Sekarang tiap kulangkahkan kaki ke sana, selalu ia menyapa, "Mana lagi karyamu yang mau dipajang di sini?"
Ingin sekali bukuku bertengger di rak best-seller.-Kredit foto: Indri Juwono @miss_almayra  http://tindaktandukarsitek.com/2015/05/24/gramedia-central-park-guilty-pleasure/
Suara itu membuatku tersadar akan draft-draft novel yang terbengkalai di laptopku dan sebuah quote yang bilang, "Kalo lo nunggu waktu ideal untuk menulis, sampai mati lo nggak akan nulis satu kata pun." Deg. Dalem, men... Gramedia mengusik aku untuk terus menulis bahkan jika sedang bad mood sekalipun. Mengusik untuk kebaikan. Semuanya bercampur dengan wejangan dari Sitta Karina dan kesadaran bahwa terakhir buku saya terbit adalah tahun 2010. It's been five years. 

Walaupun mengusik, Gramedia tetap tempat nongkrong favorit dan produktif, toko buku nomor satu. Buku-bukunya paling komplit, mulai dari sastra, agama, buku paket sekolah, sampai majalah. Selain itu ada perlengkapan sekolah dan olah raga, bahan-bahan untuk membuat kerajinan tangan, dan alat musik. Komplit deh!