Jangan Jadi Pembunuh #BeliyangBaik

Sebuah video yang tidak sengaja saya tonton karena di-share salah seorang sahabat di Facebook benar-benar menggugah saya. Apalagi saat itu saya baru menghabiskan sepotong kecil coklat yang 'kabarnya' proses produksinya berasal dari kebun kelapa sawit yang bermasalah. Di dalam video diceritakan orang utan yang sedang video-call dengan seorang gadis. Si orang utan meminta tolong supaya si gadis tak lagi mengonsumsi makanan yang merusak rumahnya yaitu hutan.


Dimana ada permintaan, di situ ada proses produksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Jadi selama kebutuhan akan makanan yang mengandung minyak sawit terus ada, hutan akan selalu dirusak dan fauna yang mendiaminya diusik. Benar begitu? Well, untung saja itu tidak sepenuhnya benar.

Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari minyak kelapa sawit. Coklat, ice-cream, biskuit, sampai sampo dan margarin mengandung minyak kelapa sawit. Memang minyak kelapa sawit ini belum tergantikan karena tekstur lembutnya dalam makanan, pengawet alami yang dapat memperpanjang penyimpanannya, dan terutama karena minyak kelapa sawit adalah minyak paling murah dari segala vegetable oil.

Jujur saya dilema jika sudah begitu. Ternyata tanpa sadar saya punya andil terhadap kasus orang utan yang dibunuh untuk diambil rumahnya sebagai lahan sawit. Berarti saya tidak bisa serta merta mengutuk pelaku pembakaran orang utan yang saya tonton di televisi.

Jika sebegitu bermasalahnya, mengapa minyak kelapa sawit tidak diganti saja? Ternyata tidak bisa sembarangan menggantinya dengan sembarang vegetable oil karena beberapa alasan berikut:
  • Mengganti palm oil dengan vegetable oil lain misalnya sunflower, soybean, atau rapeseed oil membutuhkan lahan yang lebih luas karena kelapa sawit menghasilkan minyak 4-10 kali lebih banyak dari tanaman lain di luas lahan yang sama. Menggantinya sama saja mengorbankan lebih banyak hutan yang harus dialihfungsikan sebagai lahan agrikultur.
  • Berdasarkan data, 4.5 juta orang bergantung hidupnya dari industri kelapa sawit. Menghentikan produksi minyak kelapa sawit sama saja dengan menghilangkan sumber penghasilan orang-orang yang bergantung pada industri ini.
  • Teksturnya yang creamy dan lembut tidak tergantikan dalam produk makanan.
Setelah saya mencari tahu lebih lanjut, saya menemukan jawabannya (engg ing engg) yaitu praktik produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Berikut bagan yang menunjukkan pentingnya praktik ini.
Sumber: http://www.rspo.org/consumers/about-sustainable-palm-oil
RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah praktik yang menjamin bahwa minyak kelapa sawit yang dihasilkan tidak merusak hutan primer atau area yang di dalamnya terdapat spesies terancam punah. RSPO juga menjamin pengurangan penggunaan pestisida dan api untuk membakar hutan.
Dari segi sosial, RSPO memperhatikan kesejahteraan pekerja berdasarkan standar lokal dan internasional. RSPO juga mengharuskan pembukaan lahan untuk dikonsultasikan terlebih dahulu kepada komunitas lokal. Kebijakan dan kriteria lain mengenai RSPO bisa dibaca disini.


Sebagai remaja putri, keseharian saya tidak bisa terlepas dari skin care dan make-up. Untungnya produk kecantikan yang akrab dengan remaja jaman sekarang rata-rata sudah berlabel RSPO seperti Marks & Spencer, L'occitane, dan The Body Shop. Ternyata sudah banyak perusahaan di dunia yang peduli akan kelestarian hutan dan spesies-spesies yang berlindung di dalamnya. Yuk kita sama-sama menghargai usaha mereka dengan mulai membiasakan diri menggunakan hanya produk berlabel RSPO.

Setelah googling sana-sini, saya menyadari bahwa saya ternyata sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang utan dan teman-temannya di hutan sesimpel melalui produk-produk yang saya beli. Jadi kalau ada pertanyaan, "Siapa Orang Paling Berpengaruh di Dunia?" Jawabannya adalah saya. Kamu. Kita.

Ayo sayangi hewan, jangan ambil rumahnya. Yuk beli yang baik, jangan jadi pembunuh tak langsung.