HelpNona Writing Contest : Having Self Respect, Don't Abused Yourself

Kita semua-para wanita-menginginkan hubungan yang sehat dan langgeng. Beberapa cukup beruntung bisa menjalin hubungan yang sehat. Sehat dalam arti kata walaupun tidak berujung pada pernikahan, tidak ada tindak kekerasan dan diakhiri baik-baik. Beberapa wanita, sayangnya tidak cukup beruntung. Kekerasan tidak terhindarkan. Yang lebih parah adalah ketika tindak kekerasan menjadi samar atas nama cinta.

Sumber: wordstream.com
Ya, kata-kata mempunyai kekuatan, yaitu untuk mensugesti pikiran. Saya pernah menghadiri beberapa seminar pengembangan diri dimana sang motivator menyuruh para peserta untuk setiap pagi berdiri di depan cermin dan berkata, "Saya akan jadi orang kaya.", "Saya akan jadi juara kelas.", "Berat badan saya akan turun 5 kg dengan lari setiap pagi dan makan sehat."

What is the point? Words have power. Words influence our life. Jadi ketika kita berada pada sebuah hubungan dimana pacar kerapkali melontarkan kata-kata ejekan seperti, "Kamu gendut banget sih! Aku malu jalan sama kamu." Maka kita akan mengalami krisis percaya diri yang berakibat buruk, diantaranya malu bertemu orang dan menutup diri, memiliki gambar diri yang buruk, menjalankan diet instan yang tidak sehat, dan dampak buruk lainnya.

Kalimat di atas tentu berbeda dengan kritik yang membangun seperti "Lari pagi, yuk! Biar badan jadi lebih fit dan kamu jadi lebih kurus."
Saya yakin kita cukup pintar untuk melihat perbedaan dua kalimat di atas, juga cukup pintar untuk keluar dari hubungan dimana kita mengalami penghinaan terus-menerus. Siapa bilang kata-kata tidak bisa menyakiti kita? Coba saja setiap hari mendengar ejekan terhadap diri kita apalagi dilontarkan oleh orang yang kita kasihi?

Well, kalau kata-kata saja sudah cukup buruk, apalagi jika kita mendapat kekerasan fisik yang dilakukan oleh pacar. Kekerasan bisa dalam bentuk niat untuk menyakiti, kekerasan yang menimbulkan luka fisik, dan paksaan untuk melakukan tindakan seksual.

Berdasarkan cerita teman dan beberapa seminar yang saya hadiri, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah memutuskan kontak dengan orang tersebut. Seringkali hal tersebut sulit untuk dilakukan. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari pacar yang posesif, sudah melakukan hubungan seksual, atau yang terparah, kita tidak menyadari tindak kekerasan tersebut. Seringkali karena sudah berhubungan lama, sulit sekali untuk memutuskan hubungan karena sudah kepalang sayang. Jadi kita terus-menerus memaklumi tindak kekerasan tersebut dan memberikan maaf.

Lain lagi, kalau si pacar ternyata adalah seorang pecandu dan alkoholik. Kalau sedang dalam keadaan tidak sadar, pacar kerapkali "main tangan". Dan kita tetap kembali memaafkan dengan alibi "pacar tidak sadar ketika melakukannya".

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah berada pada hubungan yang tidak sehat adalah:
  1. Mencari tahu latar belakang calon pacar, minimal kenal teman-temannya (kalau bisa kenal juga orang tuanya). Kalau kamu tahu dia seorang pecandu dan alkoholik, kamu harus mikir dua kali. Keputusan akhir tetap di kamu tapi kamu tahu sendiri bahaya yang mungkin terjadi .
  2. Kalau masih pada tahap pertemanan sudah ketahuan bohong, mending nggak usah dilanjutkan, deh. Kalau dia minta maaf, itu hak kamu untuk mempercayai intuisi apakah dia sungguh-sungguh atau sebaliknya. Tapi perlu diingat tidak ada niat baik yang dimulai dengan kebohongan.
  3. Jangan sekali-sekali memutuskan berhubungan seks saat masih pacaran. Ini seringkali jadi alasan sulit memutuskan pacar karena merasa "sudah kepalang tanggung". Yang lebih buruk adalah jika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan terpaksa harus menikah. Kekerasan berlapis rentan terjadi.
  4. Banyak membaca dan berdiskusi untuk mengetahui lebih banyak tentang tindak kekerasan dalam berpacaran, contohnya di HelpNona. Di situs ini juga ada fitur AskNona dimana kamu bisa bertanya apa saja mengenai self respect dan pacaran sehat.

Girls, kalau kamu sudah terlanjur berpacaran dengan orang yang melakukan salah satu hal di atas, hal yang sebaiknya kamu lakukan adalah:

  1. Memutus jembatan ke orang tersebut, yang artinya menghapus seluruh kontaknya, memutus hubungan dengan keluarga, teman dekatnya, atau orang-orang yang bisa membawa kamu jatuh lagi ke orang tersebut. Sounds extreme? Memang tapi kalau kamu serius ingin melepaskan diri, kamu nggak boleh buka celah sedikit pun.
  2. Ask help! Jangan ragu melaporkan kekerasan yang kamu terima (meski kamu diancam). Jika tidak, kekerasan akan terus terjadi, bahkan mungkin dengan frekuensi yang lebih sering dan lebih berat. 
  3. Counseling! Banyak LSM atau P2TP2A  yang concern terhadap masalah kekerasan pada wanita yang mau membantumu. Kamu cuma perlu speak up.
Buat saya, melepaskan diri dari orang yang tidak bisa menghargai kita adalah bentuk respek terhadap diri sendiri. Bukti kita mencintai diri sendiri dengan tidak membiarkan terus-menerus berada di circle yang negatif. After all, yang menentukan kebahagiaan kita adalah diri sendiri. We all deserve to be happy!

Sumber: http://www.helpnona.com/kabarnona/writing-contest-helpnona-2016