Menjadi Orang Tua

Umur saya 23 tahun, usia yang terbilang cukup dewasa untuk mulai berumah tangga tapi hingga detik ini saya dan teman dekat (baca: pacar) belum memutuskan untuk melangkah lebih serius lagi, yaitu membangun keluarga sendiri. Padahal sudah ada beberapa teman saya yang lebih dulu menikah. Buat saya, untuk menikah dan membangun sebuah keluarga perlu banyak belajar. Untuk menjadi orang tua, terutama banyak hal yang harus dipelajari. Beberapa orang mengatakan tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua jadi kita harus mengalami langsung sambil belajar. Saya sendiri tidak bisa memberikan komentar yang valid terhadap kalimat di atas, mengingat status saya yang belum menjadi orang tua. Namun, kalau boleh jujur, saya tetap memilih untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua. Saya tidak setuju dengan baru mulai belajar ketika sudah punya anak karena terkesan berjudi padahal kita tidak bisa bertaruh dalam hal pola pengasuhan, tidak bisa juga memutar balik waktu jika sadar kelak bahwa gaya parenting kita salah.

Mbak Inna Riana, salah satu Emak yang tergabung dalam Kumpulan Emak Blogger  membagikan cerita bagaimana beliau belajar dari sekitarnya mengenai pola pengasuhan anak. Beliau belajar dari orang-orang di sekitarnya dan dari sumber-sumber seperti buku dan internet. Saya sependapat dengan beliau, bahwa kita bisa mulai belajar dengan mengamati gaya parenting orang lain. Tanpa saya sadari, saya telah banyak belajar pola pengasuhan anak dari orang-orang di sekitar saya ketika saya menjadi kakak asuh untuk mengajar anak-anak kelas 6 SD dalam mempersiapkan ujian nasional dan saat saya menjadi guru sekolah minggu. Dari kedua kegiatan tersebut, saya mengenali ragam karakter anak berhubungan erat dengan pola pengasuhan orang tuanya. Dari yang saya amati, hubungan orang tua dan anak yang erat dan dukungan dari orang tua membuat anak lebih sukses dan berani. Dari pengalaman menjadi kakak asuh, dukungan dari orang tua membuat anak lebih semangat belajar dan nilai-nilainya di sekolah pun lebih bagus dibandingkan dengan hubungan orang tua-anak yang tidak terlalu erat atau jarang berbincang. Kasus lainnya, saya pernah bertugas jadi guru sekolah minggu dan melihat ada dua anak yang bertengkar. Tentu saya dan guru sekolah minggu lainnya bergegas menghampiri namun sebelum kami mendekat, salah satu anak terdiam dan mengulurkan tangan dan menyingkirkan egonya dengan meminta maaf lebih dulu. Saya sangat salut sekali. Ketika saya berbincang dengan ibu si anak, si ibu mengatakan bahwa di keluarganya "terima kasih" dan "maaf" adalah hal yang terutama diajarkan kepada anak-anak. Kalau saya flashback lagi, banyak pola pengasuhan anak yang telah saya amati. Pola pengasuhan yang menciptakan anak dengan karakter baik tentu akan saya tiru ketika saya punya anak kelak. Sebaliknya, untuk pola pengasuhan yang (menurut saya) kurang baik tentu saya akan mengingat agar tidak menerapkannya pada anak-anak saya kelak.