Menonton Televisi Bagi Anak: Baik atau Buruk?

Ilustrasi anak menonton televisi
Sumber: http://www.dailymail.co.uk

Di keluarga saya, tidak ada batasan waktu menonton tv. Saya juga tidak ingat kapan pertama kali boleh menonton televisi. Tapi tak anyal, mama juga sering ngomel karena nonton tv larut malam membuat saya bangun siang, belum lagi banyak hal-hal yang ditunda demi satu dua jam acara televisi yang... seringnya amblas jadi lebih dari dua jam hehehe. 

Sekarang intensitas saya menonton televisi sudah agak berkurang. Saya lebih suka melakukan hal lain selain nongkrongin tv atau gadget. Jujur saya agak menyesal, sih karena kebiasaan buruk duduk di depan tv apalagi menonton dalam jarak dekat sewaktu kecil membuat mata saya jadi minus 3.5 :(. Meski waktu saya googling, banyak pro kontra menonton televisi merusak mata (kebanyakan mengatakan menonton televisi hanya membuat mata lelah dan tidak merusak mata secara permanen), saya merasa setelah dewasa dan mengurangi intensitas menonton televisi, mata saya jadi lebih baik dan minusnya juga berkurang berdasarkan pemeriksaan optician.

Membaca salah satu artikel di KidsHealth, terlalu lama menonton televisi buruk bagi kesehatan fisik maupun mental anak. Anak-anak yang menonton televisi lebih dari 4 jam sehari berisiko lebih besar untuk overweight. Kenapa begitu? Karena seringkali acara menonton televisi ditemani oleh cemilan favorit. Hayo ngaku siapa yang sering nonton sambil ngemil?

Selain dampak fisik, tayangan kekerasan di televisi dapat memicu tindakan agresif dan menimbulkan ketakutan bahwa lingkungan sekitar anak berbahaya dan sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Selain itu, jika tanpa pengawasan, anak-anak bisa secara tidak sengaja menonton acara televisi yang di dalamnya ada unsur minuman keras, merokok, atau unsur seksual. Dampak lain yang ditimbulkan bisa melalui iklan. Anak-anak berada pada usia mudah mengimitasi apa yang mereka lihat dan dengar. Besar kemungkinan tayangan iklan di televisi dapat mengembangkan perilaku konsumtif pada mereka.

Tapi, Bu Ibu, jangan langsung panik dan melarang anak nonton televisi sama sekali karena semakin dilarang, anak bisa makin penasaran, loh. Coba ikuti panduan dari The American Academy of Pediatrics (APP) berikut ini:
1. Balita sampai umur 18 bulan sebaiknya tidak menonton televisi atau melihat layar apapun, kecuali video chatting dengan keluarga.

2. Balita umur 18-24 bulan boleh diberikan sedikit waktu menonton televisi atau melihat layar gadget dengan pengawasan orang tua. Mereka dapat belajar mengenai bentuk dan warna dari kegiatan ini.

3. Preschoolers alias anak baru masuk sekolah maksimal diizinkan 1 jam per hari menonton tayangan edukatif bersama dengan orang tua yang dapat membatu mereka memahami apa yang mereka tonton.

4. Anak-anak usia 5 tahun sampai remaja berusia 18 tahun sebaiknya diberi aturan yang tegas mengenai berapa lama waktu menonton televisi dan bermain gadget. Jangan sampai porsi menonton televisi mengganggu kegiatan lain yang lebih produktif termasuk waktu tidur.

Postingan Anis Khoir yang berjudul Anak, Televisi, dan Sarana Edukasi juga membahas beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih tayangan televisi untuk anak. Yuk mampir supaya kita sama-sama belajar bagaimana mendapatkan manfaat dari menonton televisi.