Nyobain Indoor Wall Climbing

Hi, beberapa hari lalu gue dan Sarah, temen gue dari SMP ketemu setelah sepuluh tahun nggak jumpa (hiperbola sih ini) dan karena gue dan dia sama-sama muak sama nongkrong atau jalan-jalan di mall, kita merencanakan kegiatan yang berbeda. Dua hari sebelumnya, kita brainstorming mau ngapain dan kemana. Gue mencetuskan ide untuk berenang tapi karena dia kayaknya tamu bulanannya sudah mau datang, rencana itu nggak terealisasi. Sebagai gantinya, kita ngelakuin sesuatu yang belum pernah kita coba, indoor wall climbing! Belum pernah coba bareng maksudnya karena Sarah pernah beberapa kali wall climbing katanya cuma terakhir kali pas dia kelas 5 SD.

Bertempat di Tangerang Selatan, Peak to Peak Indoor Climbing adalah kegiatan yang seru buat dilakukan bareng temen-temen, apalagi buat yang suka mencoba sesuatu yang (agak) menantang. Disebut agak karena climbing-nya indoor. Kalau di outdoor atau alam pasti tingkat kesulitannya lebih tinggi.



Biaya masuk untuk wall climbing-nya adalah IDR 95,000 untuk non member dan itu untuk seharian. Jangan lupa bawa kaus kaki. Kalau sepatu nggak perlu karena nanti akan dipinjamkan sepatu khusus. Ada perlengkapan safety juga semacam sabuk dan tali yang dipinjamkan.

Don't bring your own shoes




Tips sebelum wall climbing dari gue:
1. Maksimal makan 2 jam sebelum nyoba karena perut begah makin susah naik (pengalaman gue hehehe). Bayangin waktu itu sebelumnya, gue janjian dulu sama Sarah di Beatrice Quarter, Living World dan gue pesan cream fettucini. Long term preparation yang bisa dilakukan adalah harus terbiasa workout biar nggak cepet capek dan pegel tangannya karena di olah raga ini, otot kaki dan tangan (terutama tangan) harus kuat.

Tips pas climbing: Jangan lihat ke bawah. Pengalaman pertama dan kedua gue naik sambil lihat ke bawah, gue gagal setengah perjalanan. Yang kedua karena udah mau sampai puncak dan gue lihat ke bawah, my lower leg was shaking dan kata Sarah lucuuu banget karena kaya anjing cowok mau pipis LOL.

Trust coach and equipment. Tenang aja semua aman, kok karena ground kita adalah bantalan, bukan lantai keras dan tali pengamannya pun kuat. Jadi sabuk dan tali yang kita pakai terhubung ke coach-nya dan bobot tubuh coach menahan kita kalau terlepas dari pijakan batu dan mau jatuh. Oh, iya kalau ngerasa nggak sanggup lagi (kaya gue di 2 percobaan pertama), just let it go, lepas pegangan pada batu-batu dan tendang dinding. Nanti coach akan turunkan kita dengan melonggarkan tali yang dia pegang dan kita bisa turun pelan-pelan.

As you could see, coach-nya tersambung dengan orang yang lagi climbing

Nggak banyak cerita-cerita lagi, lihat aja keseruan (dan kesusahan gue) nyobain wall climbing pertama kali.





Coach yang berpengalaman 

Oh iya, ada juga arena climbing untuk anak-anak. Untuk anak-anak, arena climbing-nya nggak begitu tinggi dan ground-nya lebih tebal dan empuk jadi lebih aman. Menurut gue penting banget sih anak-anak dikenalkan sama olahraga seperti ini sedari kecil karena selain bagus buat otot tangan dan kakinya, menuntut anak untuk lebih berani dan open to challenge.
Arena climbing untuk anak-anak


Ground yang tebal dan lebih empuk untuk anak-anak
Fyi, buat elo yang berpegang banget sama manual guide sebelum mencoba sesuatu, elo bisa baca dulu beragam buku mengenai olahraga ini sebelum mencobanya (tersedia di resepsionis).