Kebahagian Diri Sendiri Bukan Tanggung Jawab Orang Lain

Ada satu novel favorit saya, yaitu yang judulnya Sabtu Bersama Bapak, ditulis oleh Kang Aditya Mulya. Di dalam novel yang sudah diangkat ke layar lebar itu, ada dialog sosok Cakra yang mengobrol dengan Ayu saat blind date, yang sangat 'ngena' buat saya, katanya, "...Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu."
Dari cerita di novel ini, saya pertama kali sadar bahwa sebelum memulai hubungan, kita sebagai wanita harus bahagia dan merasa lengkap dengan diri kita sendiri. Simply karena itu tanggung jawab kita, bukan pasangan untuk membuat kita bahagia. Kalau menggantungkan kebahagian sama orang lain, dan orang itu pergi, kita jadi merasa kosong dan unhappy for long time. Mungkin itu yang orang-orang bilang, seperti ada sesuatu yang hilang, yang tercabut, or any words people use for describe emptiness.

Mbak Nurin dalam postingan KEBloggingCollab yang berjudul dari "Laki-laki Hidup Lebih Bahagia, Kok Bisa?" membahas indeks kebahagiaan perempuan lebih rendah dibanding laki-laki karena faktor genetik dan juga kebutuhan yang berbeda sedangkan Mbak Sulis dalam postingan Perempuan di Tengah Budaya Patriarki berpendapat bahwa budaya patriarki juga melandasi hal tersebut maka saya berpendapat bahwa anggapan menemukan seseorang yang tepat aka find someone complimentary adalah keharusan (yang ditetapkan society) untuk menjadi bahagia. Hal ini diperkuat dengan iklim sosial kita dimana masih banyak pertanyaan, "Kapan nikah?", "Kapan punya anak?" seolah-olah indikator untuk merasa bahagia adalah kehadiran orang lain. Padahal menurut saya dan yang saya alami sendiri, jika kita tidak bahagia dengan diri sendiri dan menuntut orang lain untuk membuat kita bahagia, that negative vibe will spread dan ketika orang tersebut tidak bisa membuat kita bahagia kita akan depresi dan menjadi semakin tidak bahagia.

Di dalam novel tersebut, sosok Cakra memberi contoh bahwa jika kita mencari pasangan untuk melengkapi kekurangan kita, hubungan kita akan sibuk dipenuhi dengan si kuat melengkapi si lemah. Imagine life when both sides are strong? That is the importance to find someone who is also happy by himself, strong, and stable. And it is more important to experience those things by yourself before finding someone with that criterias. Buat saya, yang terpenting adalah tidak menggantungkan perasaan kepada pasangan dan berusaha setiap harinya untuk mengaktualisasi diri. Jadi ketika suatu saat hubungan berakhir just because it doesn't meant to be, kita tidak merasa kosong berkepanjangan.

Ini adalah cara saya untuk aktualisasi diri, merasa bahagia dan "hidup" dengan diri sendiri:
1. Do hobbies
Menulis dan olahraga adalah dua hobi saya jadi ketika postingan saya bermanfaat untuk orang lain bahkan menghasilkan uang, saya bisa merasa happy because I successfully use my potentials (self actualization). Contoh lainnya adalah ketika saya berhasil mencapai berat badan yang saya inginkan, punya muscle tone yang saya dambakan just because I stop procrastination, take my ass off and go to gym.  
2. Do things better than previous days
contoh simpel: kemarin saya banyak ngedumel and was angry over simple things. Hari ini saya bertekad untuk berpikir lebih positif dimulai dari bangun tidur dan lebih punya kontrol untuk mengendalikan emosi.
3. Do not let excuse control your wills
contoh: saya mau lebih rajin menulis, minimal tiap minggu satu postingan tayang di blog maka dari itu saya nggak ngebiarin lagi alasan "capek pulang kerja" atau "lagi nggak mood nulis" menghalangi niat awal saya.
4. It's okay to have me-time
It is okay dan merupakan keharusan buat saya sekarang. It is normal to not contacting your partner every day. Mungkin tips ini nggak berlaku buat pasangan yang sudah menikah, dan nggak valid juga bagi yang belum. Ini hanya sekadar tips yang saya dan pasangan lakukan because we are busy building our own dreams before settle down.