[REVIEW] Waxhaus: Cantik itu Bebas Bulu (dan Ramah di Kantong)

by - 4:51 PM

Wax bukan hal yang mewah lagi sejak beberapa tahun belakangan. Gerai wax bertebaran di mall-mall besar maupun di salon. Orang-orang banyak yang termakan iklan, "Cantik itu bebas bulu." Wk wk wk. Bukan ngiklan ya. Aku  sendiri lebih nyaman dan percaya diri kalo tampil tanpa bulu setidaknya di bagian-bagian tubuh luar seperti tangan kaki dan kalo pake baju terbuka...ketek!

Alhasil tadi perawatan lagi di Waxhaus Sumarecon Serpong lagi setelah beberapa lama vakum dan perawatan ala kadarnya dengan krim penghilang bulu saja.


Kenapa balik wax?
1. Pakai krim penghilang bulu bikin kulitku iritasi dan akhirnya merah-merah gatal. Kala digaruk luka, ya jadinya koreng kecil-kecil.
2. Perawatan wax sekarang sudah sangat terjangkau.
3. Tidak sakit
4. Hasil lebih rapi dan halus dibanding perawatan sendiri di rumah pakai krim atau cukur.

Aku disambut dengan suasana nyaman dan "cewek" banget begitu menginjakkan kaki di Waxhaus. Mbak di kasir yang ramah kemudian bertanya apakah aku punya member card dan mau treatment apa. Aku cobain paket underarm dan half legs seharga Rp 150.000.

Begitu masuk ruang perawatan, aku disuruh berganti baju dan memakai kemben saja oleh terapis yang nantinya akan me-wax aku. Mbaknya ramah dan talkative. Buat yang baru pertama wax nggak akan grogi dan takut, deh. Bahan yang digunakan untuk wax adalah caramel yang dipanaskan dan kamu boleh tenang karena caramel yang digunakan dijamin baru setiap hari oleh pengelola. Caramel panas itu diolesi dengan spatula ke bagian tubuh yang bulunya ingin dihilangkan. Oh iya, sebelum caramel dioleskan, kulit harus ditaburi dan dioleskan bedak tabur dulu karena waxing tidak bisa dilakukan pada kulit yang lengket.
Ruang perawatan
Kebersihan terjamin

Kaki yang mau di-wax


Pertanyaan paling penting buat yang belum pernah coba wax: Sakit nggak?

Engga sama sekali. Cuma kaget aja. Pertama, kulitku agak kaget waktu caramel panas itu dioleskan ke kulit. Koreksi, deh. Hangat, bukan panas. Kedua, waktu kainnya ditarik. Nggak sampai di situ, terapisnya lalu menghilangkan sisa bulu dengan proses threading.

Caramel yang dioleskan ke kaki secara merata

Seperti bisa dilihat pada gambar di atas, di sebelahnya ada kain seperti perban namun bahannya lebih keras. Caramel dibiarkan setengah kering lalu kain putih di dilekatkan ke kaki dan.... proses pencabutan dimulai, Sodara-sodara.
Tapi, percaya sama aku, waktu liat hasilnya hmmm... langsung decak kagum karena mulus banget. Hasilnya jauh lebih rapih dibanding cukur sendiri.
Kaki mulus bebas bulu

Sebenarnya aku mau coba brazilian wax juga kemarin namun terapis-nya bilang belum bisa karena masih pendek. He he he. Pastikan bulu apapun yang mau di-wax panjangnya kurang lebih 1 cm untuk treatment disini, ya.

Aku dipesan untuk tidak pakai deodoran dan lotion selama dua hari dulu dan pada hari keempat disuruh untuk scrub.

Overall, Waxhaus ini lebih recommended dibanding wax di salon karena terapisnya handal profesional, murah, cepat, dan yang paling penting aman untuk kita wanita (maksudnya nggak ada efek samping yang aku rasakan sampai saat ini dan terapisnya juga wanita hehehe).
Senjata pemusnah bulu nakal




Waxhaus bisa untuk pria?
Bisa dong. Tapi sebatas tangan, kaki, badan (seingat aku), underarm, dan daerah muka. Yang aku ingat jelas ngga bisa adalah daerah kemaluan.

Can't help to tell this story.
Jadi, Sabtu kemarin aku (agak) nge-push pacar aku untuk cobain treatment wax underarm. Dari awalnya ragu-ragu dan enggan, akhirnya dia mau dong di-wax keteknya. Dia awalnya minta temenin karena nervous gitu wk wk wk tapi ya buat apa lah, lagian kan satu ruangan kecil gitu cuma untuk terapis dan customer. Singkat cerita dia masuk ruangan sendirian dan malah jadi ngobrol sama terapisnya. Lupa deh tuh rasa takutnya dari kemaren-kemaren. Pas dibedakin, dia nembak langsung Mbak-nya bilang, "Mbak pake bedak Herocyn ya?"
"Iya..."
So ya gengs, ternyata Waxhaus bedaknya Herocy kaya gini nih. Lah ini mah bedak gatelku pas masih kecil.
Sumber: Blibli.com
Terus Mbak-nya nanya baru pertama kali ya dan dijawab dia, "Iya, Mbak. Dipaksa pacar." Terus Mbak-nya ngakak. Engga cukup sampai di situ Ted menghibur Mbak terapisnya. Ternyata grogi dan ketakutannya belum hilang dan dia teriak begitu Mbak-nya mengoleskan caramel hangat ke ketiaknya (caramel panas kalo kata dia. Dia insist bahwa itu panas. Baiklah.). Mbak terapisnya ketawa lagi dan coba mengoleskan caramelnya ke tangannya sendiri sambil dengan entengnya mengoreksi bahwa caramelnya hangat bukan panas. Tapi Ted ngotot, "Ih panas, Mbak." Lalu Mbak-nya ngalah. Ini kejadian langka, gengs yang melawan hukum "Perempuan selalu benar" karena dalam kasus ini, Ted selalu benar. Baiklah, kasihhh. Mukanya sumringah banget waktu keluar dari ruang treatment.

Begitulah pengalamanku dan Ted di Waxhaus. Kalo aku bakal balik lagi, kalo Ted mungkin butuh waktu untuk menerima caramelnya anget bukan panas.

You May Also Like

1 comments

  1. Nice post. I learn something new and challenging on blogs I stumbleupon on a daily basis.
    It will always be useful to read through articles from other writers and
    use a little something from other sites.

    BalasHapus

Hi, thank you for sending your thought on this post. I will get back and reach you as soon as possible

Regards,
Nia