Tergar Meditation Center: Satu Setengah Jam yang Membawa Ketenangan



Saya lupa kapan terakhir kali merasa rileks dan tidak overthinking terhadap sesuatu, merasa tenang, dan utuh seluruhnya. Tuntutan dari diri sendiri dan tekanan dari lingkungan sekitar benar-benar membuat saya jauh akan yang namanya damai sejahtera.

Hal tersebut yang mendorong saya mengunjungi Tergar Meditation Center. Saya tahu kegiatan meditasi ini dari Teddy. Acaranya juga di-share di aplikasi Meetup. Hari Selasa, 17 Juli 2018 lalu temanya adalah THE ART OF LETTING GO - “What should you do when things doesn't go your way”. Bermingu-minggu sebelumnya saya berjuang melawan kecemasan berlebih jadi harapannya dengan mengikuti acara tersebut saya jadi lebih lapang, lebih nerima keadaan.

Acara dimulai tepat waktu pukul 19.30. Walau di aplikasi Meetup pesertanya hanya empat orang, ruangan meditasi dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya. Umurnya pun beragam, mulai dari remaja sampai manula. Di pojok ruangan, ada dua bantal yang dapat digunakan untuk meditasi, bantal kecil dan bantal besar. Bantal kecil ditumpuk di atas bantal besar, berfungsi untuk menyangga bokong agar tidak pegal.

Sebelum meditasi dimulai, pembicara hari itu bercerita sedikit mengapa letting go itu penting untuk kesehatan jiwa kita, dan bisa dilakukan dengan bertindak sadar mengapa kita marah, mengapa kita sedih, dan hal-hal lain yang membawa efek negatif terhadap tubuh.

Setelah sharing, meditasi dimulai dengan latihan pernapasan tujuh hitungan dalam 3 repetisi. Terbiasa meditasi saat sekolah d sekolah buddhis saat SMA nyatanya tak membuat saya memfokuskan pikiran dengan lebih baik. Meditasi adalah kegiatan yang harus dilatih terus-menerus. Di kasus saya, kegiatan ini mandek sejak tahun 2012, sejak saya lulus. Setelah itu, saya masuk ke fase "rush time", semuanya serba diburu-buru saking saya nggak mau kehilangan momentum. Saya masih muda, punya banyak energi untuk ini-itu, nggak mau ketinggalan, mau coba semuanya. Ujung-ujungnya yang bisa saya kerjakan dalam waktu bersamaan paling hanya satu, dua hal. Otak saya hanya mampu fokus pada dua hal paling banyak dalam waktu yang bersamaan. Jika lebih dari itu, semuanya hasilnya tidak maksimal plus capek sendiri.

Jujur, saya pun masih di fase itu sekarang, hanya saja bendera putih sudah terangkat setengah alias sudah mulai menyerah, mengakui kalau kapasitas diri tidak seberapa. Jadilah saya balik lagi mencari apa, nih yang bisa membawa saya pada kesadaran bahwa saya hanyalah manusia dengan kemampuan yang terbatas.

Setelah latihan pernapasan, kami dibagi menjadi lima kelompok untuk sharing beberapa hal mengenai pengalaman meditasi masing-masing orang. Pemimpin kelompok saya mengatakan bahwa ketika meditasi dan kita memikirkan hal lain (which is something that often happens during it), sesepele menginginkan bakso, dan menyadari bahwa itu hanya keinginan (jangan berpikir untuk menghindari bakso dan terus-menerus mengingatkan diri sendiri untuk melupakan bakso). Simply sadari itu hanya keinginan belaka, dan arahkan pikiran dengan fokus pada pernapasan, that is what we call meditation.
Diskusi kelompok kecil


Tergar Meditation Center berlokasi di Green Mansion Daan Mogot Km.10
Jl. Boulevard Raya 47 No.35, Jakarta Barat. Dari stasiun Taman Kota, lokasi dapat dicapai kurang dari 10 menit (jika tidak macet) dengan online transportation. Untuk sarana transportasi lain, bisa dilihat di link ini. Tapi saran saya, setelah turun dari stasiun kereta, paling cepat dan mudah, ya pesan online transport.

Acara ini gratis, siapapun boleh datang, tidak ada RSPV kecuali acara besar yang di-posting di web seperti kedatangan Yongey Mingyur Rinpoche. Kalau kamu berpikir meditasi identik dengan agama Budha, yes it is tapi di Tergar tidak ada sedikit pun ajaran agama di dalamnya, hanya ada nilai-nilai universal seperti welas asih, mengendalikan diri, dan memiliki kesadaran akan setiap hal.

Kalau kamu penasaran sama Tergar langsung saja main ke website-nya.