Tameng Wanita dari Si Putih



Si tamu yang datang berkunjung setiap bulan tidak bisa dihindari. Kadang kita bisa memprediksi, seringkali tidak. Si tamu ini bisa diprediksi dengan perubahan mood mendadak dan gloomy sepanjang hari. Kadang kutandai pula setiap bulan dengan harapan bisa memprediksi kedatangan "si dia". Tapi ada daya "si dia" suka datang nggak bilang-bilang.

Ketika PMS (Premenstrual Syndrome), hormon estrogen menurun. Hormon estrogen yang menurun menyebabkan serotonin (hormon yang berperan ketika kita bahagia) ikut turun [1]. Rendahnya level serotonin menyebabkan kita mengalami depresi, mudah tersinggung, dan ingin mengonsumsi karbohidrat [2]. Ketiga hal itu adalah tanda-tanda wanita sedang mengalami PMS. Saat PMS, hal kecil aja bisa memicu aku sedih atau marah. Sedihnya, orang-orang terdekatku kaya pacar seringkali kena imbasnya. Dalam beberapa bulan terakhir, aku berusaha ekstra keras untuk mengelola emosi supaya ketika PMS, nggak jadi orang yang nyebelin.

Salah satu cara mengendalikan diri ketika sedang marah adalah dengan menulis.  Kebetulan itu juga hobiku. Jadi, kalau kamu sedih atau marah dan siap melontarkan kata-kata yang bakal kamu sesali kemudian, coba ungkapkan kekesalanmu dalam bentuk tulisan, apa alasan di balik kemarahanmu dan bagaimana seharusnya kamu merespon. Dengan menulis, aku merasa lebih "sadar" apalagi jika aku membaca kembali apa yang aku tulis. Selain menulis, melakukan hobi dan olahraga juga membantu menyalurkan energi negatif yang sedang dirasakan.

Biasanya saat PMS, aku sudah sadar bahwa sebentar lagi akan datang bulan. Jadi sudah kusiapkan empat sampai lima pembalut yang kusimpan dalam pouch kecil setiap keluar rumah. Pembalut harus disimpan di tempat yang bersih sebelum dimasukkan ke dalam tas karena akan digunakan untuk daerah kewanitaan. Aku pakai pembalut yang mengandung ekstrak daun sirih karena daun sirih berfungsi sebagai antiseptik yang melindungi daerah kewanitaan dari bakteri. Kok aku peduli amat, ya soal esktrak dalam pembalut? Jadi begini ceritanya, teman-teman...

Dulu sewaktu kuliah tingkat akhir dan disibukkan dengan banyak aktivitas, aku mengalami keputihan. Sedih? Pasti. Khawatir? Iya dong. Oleh karena itu, aku memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit dan kelamin di salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Rasanya lega luar biasa ketika dokter mengatakan bahwa keputihanku normal. Hampir semua wanita pernah mengalami keputihan. Jadi keputihan itu dibagi dua, normal dan tidak nomal. Keputihan normal terjadi karena cairan yang diproduksi oleh kelenjar di dalam vagina dan leher rahim membawa sel-sel dan bakteri yang mati. Hal ini bertujuan untuk menjaga vagina tetap bersih. Cairan saat keputihan normal berwarna putih bening dan tidak berbau. Keputihan normal terjadi saat kita sedang stres, sebelum menstruasi, dan sedang gairah seksual. Itu normal, kok jadi tidak perlu khawatir. Aku juga diberitahu oleh dokter bahwa penggunaan cairan kimia pembersih daerah kewanitaan tidak dianjurkan karena tidak sesuai dengan pH vagina yang asam.

Sebaliknya, cairan pada keputihan tidak normal keruh, berwarna agak hijau atau abu-abu, berbau amis, dan agak menggumpal. Selain itu, vagina terasa gatal atau perih. Kalau kamu mengalami keputihan dengan ciri seperti ini, segera periksakan ke dokter, ya. Keputihan tidak normal bisa disebabkan oleh infeksi jamur dan bakteri, obat antibiotik atau kortikosteroid, mengonsumsi pil KB, infeksi klamidia atau gonore, diabetes, sabun wangi, penyakit radang panggul, sampai kanker serviks [3]. For your info, kanker serviks adalah penyebab kematian nomor satu kaum hawa di Indonesia. Setiap tahunnya, setidaknya ada 15.000 kasus wanita Indonesia terinfeksi kanker serviks [4]. Uniknya, kanker ini juga adalah satu-satunya jenis kanker yang bisa dicegah dengan vaksinasi. Vaksin HPV dapat mencegah kanker serviks dan sebaiknya diberikan pada  wanita usia remaja dan sebelum berhubungan seksual. Jika sudah pernah berhubungan, lakukan pap smear di dokter kandungan sebelum melakukan vaksinasi.

Banyak banget info yang bisa didapat dengan konsultasi dengan dokter spesialis kelamin. Selain informasi di atas, aku juga dianjurkan untuk memakai pakaian dalam yang dapat menyerap keringat, tidak terlalu sering memakai pakaian ketat seperti skinny jeans, selalu mengganti celana ketika lembap (bisa karena keringat atau setelah bilas saat buang air kecil), mengganti pembalut minimal setiap 3 jam sekali saat datang bulan, dan menggunakan pembalut yang menyerap dengan cepat sehingga vagina tetap kering saat "lagi banyak-banyaknya".

Setelah browsing dan sharing sesama wanita kalau lagi ngumpul bareng teman, aku makin yakin kalau pembalut yang biasa kupakai, Softex Daun Sirih sudah pilihan yang tepat setiap datang bulan. Softex Daun Sirih terdiri dari 3 ukuran yaitu heavy flow (29cm) yang kupakai di hari pertama dan kedua, extra heavy flow (36cm) yang kupakai saat tidur, dan regular (23cm) di hari-hari biasa. Nggak perlu takut akan ruam atau iritasi buat yang punya kulit sensitif karena Softex Daun Sirih sudah teruji klinis oleh Australian Dermatologist sebagai pembalut yang aman untuk kulit sensitif. Softex Daun Sirih punya kemampuan menyerap dalam 1 detik jadi nggak akan terasa lembap saat menstruasi. Eit, tapi jangan jadikan alasan untuk malas ganti pembalut, ya.


Buat aku sekarang, menstruasi bukan lagi sesuatu yang menakutkan apalagi membatasi aktivitas. Semuanya proses alami yang mengingatkan aku betapa luar biasanya jadi wanita. PMS sebelum datang bulan mengajarkan aku untuk mengolah emosi, seberapa pun mudahnya untuk memvalidasi marah karena hormon wanita. Saat menstruasi tiba, aku bisa lalui dengan aman, damai, dan happy karena Softex Daun Sirih!


Sumber:
1. Premenstrual Syndrome (PMS) oleh emedicinehealth
4. Cegah Kanker Serviks, Kenali Lebih Dalam Pembunuh Nomor Satu Kaum Hawa oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia