Stunting: Terlihat Biasa Namun Berbahaya

Tempo hari saya melewati jalan protokol di Jakarta dan melihat baliho iklan kesehatan masyarakat yang menginformasikan risiko kesehatan pada anak, yaitu stunting, obesitas, dan anemia. Tentu kedua kata terakhir sudah tidak asing bagi saya terutama anemia karena sewaktu saya kecil, saya pernah didiagnosa anemia oleh dokter dan diresepkan penambah darah untuk saya minum selama beberapa waktu.

Selang beberapa hari, saya dikirimkan newsletter informasi pitching dari salah satu FMCG yang mencari ide dari anak muda untuk memberikan solusi atas masalah yang berkaitan dengan gizi. Di sana disebutkan, dampak gizi buruk salah satunya adalah stunting. Di Indonesia, ada 8,4 juta kasus anak mengalami kondisi stunting. Jumlah ini terbesar ke-5 di dunia.

Didorong rasa penasaran dengan 'stunting', kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya, saya cari tahu lebih lanjut apa itu stunting, dampak, dan bagaimana pencegahannya.
Image result for stunting
Sumber: grafis.tempo.co

Stunting adalah kondisi dimana anak tumbuh lebih pendek dari teman-teman seumurannya karena kurang asupan gizi pada waktu yang lama. Sayangnya, masyarakat Indonesia  masih menganggap biasa hal ini dan beralibi bahwa anak pendek karena, "bapak dan ibunya juga pendek." Stunting memang bisa mengecoh dengan tinggi badan karena genetis. Namun jangan sampai kecolongan karena stunting bisa dicegah. Mengutip Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moelok, "Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih."

PENCEGAHAN STUNTING

1. Pola Makan


Waktu kecil saya terbiasa mengikuti cara orang tua saya makan, yang diturunkan pula dari kakek nenek saya bahwa nasi punya porsi dominan di piring. Baru lauk-pauk dan sayur di samping atau di atas nasi. Mungkin pada saat itu, akses internet sangat terbatas dan kami tidak tahu komposisi gizi yang seimbang itu seperti apa. Setelah adanya kemudahan untuk mencari informasi, saya jadi tahu bahwa satu porsi makan harus diisi setengahnya oleh sayur dan buah, setengahnya lagi dengan sumber protein seperti tempe, ikan, kacang-kacangan, dan aneka sumber protein nabati dan hewani lainnya. Kedua hal ini harus lebih banyak dibandingkan karbohidrat seperti nasi.

Berikut adalah contoh porsi makan ideal dimana brokoli sebagai sayuran hijau punya porsi dominan dalam piring. Selain itu, protein didapat dari ayam, dan karbohidrat dari quinoa.
Chicken Teriyaki Quinoa Bowl -- a quick, easy, and healthy recipe for lunch or dinner! Plus, it's so easy to mix up with different vegetables, proteins, etc. Enjoy! :)
Sumber: id.pinterest.com
Setiap hari, manusia terutama anak-anak membutuhkan protein sebagai zat pembangun bagi tubuh. Ketika anak sudah berusia tiga tahun atau sudah dapat makan, dianjurkan mengonsumsi 13 gram protein yang mengandung asam amino esensial setiap hari. Protein tersebut bisa didapat dari sumber hewani, yaitu daging sapi, ayam, ikan, telur, dan susu.

2. Pola Asuh


Sebagai calon ibu suatu hari nanti, saya merasa berkewajiban untuk mempelajari dari sekarang apa saja yang harus dibiasakan dan diberikan agar anak kelak tumbuh sehat. Ternyata stunting dapat dicegah dari jauh-jauh hari, dari sekarang dengan menjaga kesehatan reproduksi dan menjaga asupan gizi untuk diri sendiri. Jujur, saya ini orangnya picky sama makanan. Banyak makanan laut yang saya nggak doyan karena bagi saya amis. Padahal seafood adalah sumber protein berkualitas tinggi karena umumnya rendah lemak jahat dan tinggi omega-3. Tentunya dengan proses pemasakan yang baik, ya.

Saat hamil nanti, asupan gizi harus lebih telaten lagi diperhatikan karena  stunting dimulai saat janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Selain gizi, yang harus diperhatikan oleh ibu hamil agar calon bayi tidak berisiko stunting adalah memeriksakan kandungan minimal empat kali selama masa kehamilan.

Lanjut ketika bayi sudah lahir. Mama bilang colostrum itu bentuk pertama dari ASI yang bermanfaat untuk bayi baru lahir karena dapat menjaga imunitas (vaksin alami) dan menjaga saluran pencernaan bayi dari infeksi. Setelah itu, bayi harus mendapat full ASI sampai usia 6 bulan. Setelah 6 bulan, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun namun bayi harus diberi makanan pendamping ASI.

Saya belumlah jadi seorang ibu namun berdasarkan studi pustaka yang saya dapatkan, memang susah mencari sendiri tanda-tanda stunting pada anak. Oleh karena itu, kementerian kesehatan menganjurkan agar balita dan anak-anak diperiksakan kesehatannya secara rutin.

3. Air Bersih

Banyak penyakit yang diawali dengan sanitasi yang buruk. Oleh karena itu, mari kita biasakan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, juga tidak buang air besar sembarangan

DAMPAK STUNTING

Seperti dijelaskan grafis Tempo di atas, stunting punya dampak yang tidak main-main. Pada tahun-tahun awal, perkembangan menjadi terhambat, penurunan fungsi kognitif, penurunan sistem imunitas, dan gangguan metabolisme. Saat dewasa, timbul risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas.


Mencegah stunting berarti memberi kesempatan pada anak untuk tumbuh optimal demi mencapai apapun yang dicita-citakannya. Siapa tahu kelak anak berbakat jadi atlet dan bisa mengharumkan nama Indonesia di event internasional seperti Asian Games.

Sumber:

1. http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html
2. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0271531702003731
3. http://dinkes.inhukab.go.id/?p=3348
4. http://intisari.grid.id/read/0358346/ini-dampak-stunting-pada-anak?page=all